Mulai Berzakat

Demi Mengabdi, Pascal Melatih Voli Tanpa Dibayar

1
  •   Date :  June 19, 2019
  •   Dyah Sulistiowati
  •   Editor Reza Mardhani
  •   Viewers :  64

ACTNews, JAKARTA - Bagi Pascal, voli sudah menjadi bagian hidupnya. Memulai karir sebagai atlet voli di umur 17 tahun, pemain bernama lengkap Pascal Wilmar ini, awalnya berlatih di Akademi Maluku hingga akhirnya bisa menembus Universiade, yakni olimpiade untuk mahasiswa dari seluruh dunia pada 1991 di Inggris dan 1993 di Amerika Serikat.

Namun dari sekian banyak pertandingan, tetap pengalaman paling berkesan baginya adalah menyumbang emas untuk tanah air pada SEA Games yang diselenggarakan tahun 1993 di Singapura. Berangkat pengalaman-pengalaman itu, setelah pensiun dari dunia voli ia bertekad untuk membina Klub Maluku tanpa dibayar.

“Saya bisa jadi pemain juga karena latihan yang mereka berikan, atas motivasi yang mereka berikan. Jadi dari situ akhirnya saya punya niat, bahwa saya tidak mau dibayar tapi saya bantu anak-anak (Klub Maluku) ini. Walaupun mereka tidak menjadi pemain nasional, kalau mereka bisa bermain bagus, setidaknya bisa masuk SMA dan kuliah dengan jalur prestasi, misalnya,” ujar Pascal kepada tim Global Zakat di rumahnya pada Senin (17/6).

Banyaknya fenomena veteran atlet yang hidupnya sulit pascapensiun, memang membuat Pascal melihat dari perspektif lain dari masalah ini. Ia menilai perlunya ada pembinaan dari pendidikan di samping menjadi atlet semata. Oleh karenanya, kini sembari melatih ia terus membina dan memotivasi para pemainnya untuk melanjutkan pendidikan juga.

“Kita boleh saja olahraga, tapi lebih baik kalau juga sekolah, kalau bisa dua-duanya berjalan. Karena ada sekolah yang bisa beri kita dispensasi untuk hal seperti itu. Ada beasiswa, ambil. Karena masa depan tergantung dari diri kita juga,” ujar Pascal. Di samping itu, Pascal juga menilai perlunya bantuan dari pemerintah untuk merealisasikan hal ini.

Setelah pensiun, ia sendiri sempat menduduki posisi Project Manager di sebuah perusahaan teknologi, namun memilih kembali dunia voli karena baginya merupakan kesenangan tersendiri ketika kembali ke lapangan dan menyusun strategi untuk memenangkan pertandingan.

“Saya coba jadi pelatih lagi selama dua minggu kemudian kok lebih dapat feelnya, dapat passionnya. Ya sudah, resign. Padahal dalam hati bertanya sendiri, kok saya bisa nekat sekali? Tapi ya sudah, dari voli saja saya bisa hidup. Karena saya menjalaninya dengan kenikmatan, dengan keikhlasan,” kata Pascal.

Selain Klub Maluku, ia juga mengasuh beberapa tim voli lainnya sehari-hari. Salah satunya yakni tim voli dari TNI Angkatan Laut. Atas pengabdiannya ini, tim Global Zakat beserta Grab dan Kitabisa.com memberikan apresiasi berupa uang tunai untuknya. Pascal menyambut positif gagasan ini dan menyarankan perlunya untuk meningkatkan program ini ke depan.

“Mungkin memang kalau di sini (kota besar) cukup, tetapi kita tahu sendiri di luar daerah juga banyak mantan atlet nasional yang prasejahtera. Karena di sini mereka bisa hidup cukup, begitu mereka pulang kampung agak susah mencari pekerjaan baru. Saya sebagai salah satu yang mendapatkan bantuan ini sangat berterima kasih atas adanya bantuan dari Global Zakat, Grab, dan Kitabisa.com ini,” katanya.

Ia berharap tim voli putra dapat lebih maju lagi, bahkan hingga kancah internasional untuk ke depannya. Selain itu, seperti yang selalu ia tanamkan kepada para pemain asuhannya, ia berpesan agar para atlet voli untuk tidak fokus pada olahraga belaka.

“Walaupun mereka berlatih voli, tapi saya tetap memotivasi mereka agar tidak meninggalkan pendidikan mereka. Karena bagaimanapun, pendidikan itu akan berguna untuk masa depan mereka juga,” pungkas Pascal. []