Mulai Berzakat

Kenel Siap Menyambut Rumah Baru

1
  •   Date :  June 27, 2019
  •   Eko Ramdani
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  40

PANDEGLANG – Kenel (40) warga Kampung Purbasari, Desa Bangkonol di Kecamatan Keroncong, Kabupaten Pandeglang, dalam satu tahun ini harus tinggal di rumah tak layak huni. Dinding dari bata hanya setengah dari tinggi rumah. Sementara itu, sisanya hanya tertutup dengan terpal yang jika siang hari akan membuat suhu udara di dalam rumah menjadi panas.

Lahan tempat berdirinya rumah Kenel dan ketiga anaknya berukuran 3x2 meter. Tak ada fasilitas kebersihan di rumahnya. Bangunannya hasil bantuan dari pemerintah setempat. Selain itu, lahannya pun milik orang lain, Kenel dan keluarganya menumpang.

Ibu tiga anak itu menuturkan, di dalam rumah yang ditinggalinya kini hanya terdiri satu ruangan saja. Ruangan itu digunakan sebagai tempat tidur ketiga anaknya dan dapur. “Rumah ini hanya ditambal dengan terpal dan papan seadanya, kalau hujan bocor, kalau cerah juga panas,” tutur Kenel kepada tim Rumah Bahagia dari Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT), Sabtu (22/6).

Di akhir pekan lalu itu, tim Rumah Bahagia mengunjungi kediaman Kenel. Tim melakukan asesmen awal untuk pembangunan rumah layak huni bagi janda dengan tiga orang anaknya itu.

Koordinator Rumah Bahagia Nurjannatunaim mengatakan, Global Zakat melalui program Rumah Bahagia akan membangun rumah layak huni bagi Kenel dan anaknya. Pembangunan akan dilakukan pada bulan Juli mendatang di atas lahan milik Kenel sendiri yang tak jauh dari lokasi tempat tinggalnya sekarang.

“Kenel memiliki lahan sendiri berukuran 6x4 meter persegi, beberapa tahun lalu mereka tinggal di sana. Namun salah satu anaknya yang mengalami gangguan kejiwaan menghancurkan rumahnya,” jelas Nurjannatunaim.

Di tanah milik Kenel sendiri itu yang akan tim Rumah Bahagia bangun rumah layak huni. Pengerjaan diperkirakan akan memakan waktu lebih-kurang 3 hingga 4 pekan lamanya.

Keadaan ekonomi yang masih prasejahtera menjadi alasan utama Kenel dan keluarganya tinggal di rumah tak layak huni seperti sekarang ini. Ia tak bekerja, membuat kebutuhan sehari-hari hanya mengandalkan dari anak perempuannya yang menjadi buruh.[]