Mulai Berzakat

Tangis Aminah Lepas Anaknya Kuliah ke Jakarta

1
  •   Date :  July 25, 2019
  •   Reza Mardhani
  •   Editor Dyah Sulistiowati
  •   Viewers :  31

“Saya merasa terharu, merasa berterima kasih juga kepada Global Zakat - Aksi Cepat Tanggap (ACT) karena sudah mau membantu. Sempat saya terpikir ingin menguliahkan anak, tapi tidak mampu,” kalimat Aminah Mau, terhenti cukup lama. Aminah mencoba menyembunyikan air matanya dan menyekanya dengan jilbab berwarna kuning yang dikenakannya.

“Sekarang ACT memfasilitasi anak saya untuk kuliah di Jakarta. Saya merasa terharu dan sangat berterima kasih. Saya titipkan anak saya kepada bapak-bapak semua saat dia di sana,” kata ibu dari tiga anak tersebut ketika tim ACT berkunjung ke rumahnya yang terletak di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur pada Rabu (24/7).

Muhammad Mau, putra sulung dari Aminah, akan segera berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya selama tiga tahun. Aminah bisa cukup lega karena Muhammad akan menempuh pendidikan tingginya tanpa biaya. Putranya mendapat beasiswa penuh dari Global Zakat-ACT.

Sebelumnya, bisa menguliahkan anak adalah angan-angan bagi Aminah. Suaminya wafat pada 2014 lalu, membuat Aminah menjadi orang tua tunggal untuk menafkahi keluarganya. Namun, saat itu ia bertekad untuk setidaknya bisa menyekolahkan Muhammad hingga tamat SMA.

Setiap harinya, pekerjaan Aminah adalah menggarap ladang dan mengurus ternak milik orang lain, yang mana hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia bersyukur mempunyai anak seperti Muhammad, yang paham situasi orang tuanya. Muhammad sering kali membantu ibunya.

“Kami pelihara ternak, Muhammad bantu urus ternaknya setiap pulang sekolah. Kalau sore begini ya, potong sayur, kasih makan kambing. Dia juga suka membantu saya menyapu rumah,” cerita Aminah tentang kebiasaan anaknya. Nantinya, kata Aminah, akan ada bagi hasil dari ternak dan ladang yang sudah ia garap itu.

Untuk tambahan uang, Aminah juga tidak kehabisan akal. Setiap hari ia menyambi berjualan kue. Donat, roti, dan pisang goreng ia jajakan kepada orang-orang di kampungnya. Ia jual kue tersebut seharga lima ratus rupiah per buahnya.

“Karena kalau kita mau jual seribu, di desa tidak bisa. Kita hanya pungut seribu atau dua ribu dia punya untung. Paling-paling kita target (dengan bahan) satu kilo saja, itu cuma dapat empat puluh ribu. Empat puluh ribu itu kalau kita bagikan kepada modal, cuma dapat untung sepuluh ribu,” kisah Aminah.

Tetapi usaha keras memang tidak akan mengkhianati. Muhammad berhasil lulus dari sekolahnya pada tahun ini. Bersama dua kawannya yang lain, Faisal Djaibakal dan Jakaria Molomahi, mereka segera menempuh pendidikan di Fath Institute, binaan Ustaz Amir Faishol Fath.

Aminah akhirnya mengantar si sulung ke depan pintu rumah. Bersama tim Global Zakat-ACT, Muhammad meninggalkan Pulau Alor menuju Jakarta. Ia menangis mencium tangan ibunya, begitu juga Aminah yang terus menangis ketika melepas anaknya tersebut.

Aminah kemudian berpesan, “Pesan kepada saya kepada anak saya, Muhammad, saya minta dia belajar dengan baik supaya dia bisa berguna baik agama, negara, dan pemerintah.” []